<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Noverinus's Weblog</title>
	<atom:link href="http://noverinus.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://noverinus.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jun 2008 13:06:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='noverinus.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Noverinus's Weblog</title>
		<link>http://noverinus.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://noverinus.wordpress.com/osd.xml" title="Noverinus&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://noverinus.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perlu Paradigma Baru Mengolah Sampah</title>
		<link>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/perlu-paradigma-baru-mengolah-sampah/</link>
		<comments>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/perlu-paradigma-baru-mengolah-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 07:06:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noverinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/perlu-paradigma-baru-mengolah-sampah/</guid>
		<description><![CDATA[Kebersihan rumah seseorang dapat terlihat dari kebersihan kamar mandi dan kamar kecilnya. Kebersihan tempat penginapan/hotel dilihat dari fasilitas MCK (mandi, cuci, dan kakus)-nya. Kebersihan suatu kota akan dilihat dari pengelolaan sampahnya. SAMPAH selalu identik dengan barang sisa atau hasil buangan tak berharga. Meski setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah, manusia pula yang paling menghindari sampah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=noverinus.wordpress.com&amp;blog=3157016&amp;post=5&amp;subd=noverinus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/trash.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-18" style="float:left;" src="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/trash.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a><em><span style="color:black;">Kebersihan rumah seseorang dapat terlihat dari kebersihan kamar mandi dan kamar kecilnya. Kebersihan tempat penginapan/hotel dilihat dari fasilitas MCK (mandi, cuci, dan kakus)-nya. Kebersihan suatu kota akan dilihat dari pengelolaan sampahnya. </span></em></p>
<p><span style="color:black;">SAMPAH selalu identik dengan barang sisa atau hasil buangan tak berharga. Meski setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah, manusia pula yang paling menghindari sampah. Orang kebanyakan hanya bisa membuangnya, namun kurang peduli bagaimana barang sisa itu seharusnya diperlakukan. Tidaklah heran, akibat kelalaian dan kekurangpedulian kita terhadap sampah, kita pula yang menuai bencana yang ditimbulkan oleh sampah. </span></p>
<p><span style="color:black;">Sekian lama pengelolaan sampah dengan konsep buang begitu saja (<em>open dumping</em>), buang bakar (dengan <em>incenerator</em> atau dibakar begitu saja), gali tutup (<em>sanitary landfill</em>) ternyata membuahkan hasil yang jelek. Antara lain dengan timbulnya korban jiwa, bau busuk menebar ke mana-mana, dan kondisi lingkungan yang tidak sehat seperti banyaknya lalat dan tercemarnya air bersih/sumur oleh air lindi dst. Tidaklah mengherankan di kota yang penduduknya padat, warga menolak kehadiran TPA (tempat pembuangan akhir sampah).</span><span id="more-5"></span></p>
<p><span style="color:black;">Dampak sosial yang timbul akibat pembuangan sampah/penimbunan sampah sampai saat ini kelihatannya belum banyak mengubah pandangan para pengambil kebijakan dan para operatornya. Sebagai contoh di Kota Bandung, sampah menggunung di depan atau di samping rumah/toko adalah pemandangan yang biasa. </span><span style="color:black;">Bahkan di tengah badan jalan protokol juga bukan hal yang aneh. Contoh di atas memperlihatkan bagaimana para pemegang kebijakan dan operatornya melihat masalah sampah. Sampah yang mengotori kota, membuat lingkungan tidak sehat, dan mengganggu lalu lintas, masih belum dianggap sebagai persoalan serius. Saat ini saja, dengan asumsi penduduk Kota Bandung 2,5 juta jiwa dan tiap orang menghasilkan sampah seberat 2 kg , sampah yang harus diangkut di Kota Bandung sekira 5.000 ton per hari atau 150.000 ton per bulan. </span></p>
<p><span style="color:black;">Kasus di atas sangat mengerikan bagi orang yang mengerti kesehatan dan sadar lingkungan. Padahal, jika ditangani dengan baik dan profesional, di samping membuat kota menjadi bersih dan kondisi lingkungan menjadi baik, sampah akan mendatangkan uang serta lapangan kerja yang cukup besar. Para pegawai yang bergerak dalam pengelolaan sampah akan merasa bangga karena mereka bekerja di bidang yang produktif dan mulia. Kesejahteraan mereka juga akan bertambah baik. Dengan berkurangnya volume sampah, para operator akan merasa senang, apalagi jika sampai mencapai taraf zero waste.</span></p>
<p><span style="color:black;">Dalam konteks inilah, perlu mengedepankan konsep atau paradigma baru dalam pengelolaan sampah kota. Dalam konsep ini, harus disingkirkan pandangan bahwa sampah adalah barang bekas yang harus dibuang di TPA. Mulailah menempatkan sampah sebagai sumber devisa yakni dengan mengubah TPA sebagai “pabrik kompos”. Di “pabrik kompos” itulah sampah-sampah organik yang jumlahnya mencapai 69 persen dari keseluruhan jenis sampah, bisa diolah menjadi kompos yang bisa dijual kembali ke masyarakat. (Baca: Mengubah Sampah Menjadi Kompos, Halaman 26)</span></p>
<p><span style="color:black;">Dengan cara ini, tidak akan ada lagi cerita sampah bertumpuk-tumpuk di TPA. Yang ada hanyalah sebuah proses pabrikasi kompos dengan bahan baku sampah organik. Warga kota akan senang karena sisa buangan mereka bisa diambil semua sehingga kota jadi bersih. Pemerintah kota juga akan mendapatkan pemasukan devisa dari hasil penjualan sampah. Sementara itu, para petani juga akan merasa senang karena kebutuhannya terhadap pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan tanahnya bisa terpenuhi. Ini sekaligus memupus ironi, di satu sisi sekira 90 persen lahan pertanian masih kekurangan bahan organik, sementara di sisi lain pemerintah kota merasa kesulitan bagaimana membuang bahan organik (berupa sampah). Secara ekonomi, konsep seperti ini juga bisa memberi efek rembetan yang luas, setidaknya membuka lapangan kerja baru yang bisa mengurangi pengangguran. </span></p>
<p><span style="color:black;">Berdasarkan perhitungan, setiap hectare lahan pertanian memerlukan kompos antara 5 -20 ton. Jika rata-rata 10 ton saja dosisnya, produksi kompos yang dihasilkan dari sampah Kota Bandung hanya dapat memenuhi permintaan 210 ha lahan per bulan atau 2.520 ha per tahun. Dengan asumsi luas lahan sawah di Kab. Bandung lebih dari 100.000 ha, lahan kering untuk hortikultura dan tanaman hias mencapai 100.000 ha, dan lahan perkebunan yang mencapai puluhan ribu ha, produk kompos yang dihasilkan dari sampah Kota Bandung masih jauh dari mencukupi. </span></p>
<p><span style="color:black;">Ibarat WC di dalam rumah , TPA adalah WC-nya kota. Saat ini sulit membayangkan orang yang mau buang air besar harus menggali tanah terlebih dahulu kemudian ditutup dengan tanah kembali. Atau mungkin buang air besar di pinggir kali/sungai yang kotorannya entah mengalir ke mana. Nah, di perkotaan seperti Bandung, kasus di atas lebih parah lagi karena identik dengan buang air besar di jalan raya/di depan rumah/toko , tanpa digali dan tanpa ditutup. </span></p>
<p><span style="color:black;">Semakin bagus suatu rumah, biaya pembangunan kakus/kamar mandinya akan semakin tinggi. Bahkan konsep terakhir, para pengguna kakus dibiarkan berlama-lama di dalam kakus/kamar mandi. Jika biaya pembangunan rumah rata2 1 juta/m2, biaya pembangunan kakus/kamar mandinya dapat mencapai 2 jutaan/m2. </span><span style="color:black;">Semakin bagus suatu rumah akan semakin bagus kakus/kamar mandinya. Bagaimana denga anggaran rutin pada penanganan sampah?</span></p>
<p><span style="color:black;">Pemerintah daerah memang wajib membiayai pengelolaan sampah. Namun, dalam konsep atau paradigma baru pengelolaan sampah ini, biaya pengelolaan sampah yang dikeluarkan pemerintah bukanlah variabel <em>cost</em> yang hilang. Melainkan variabel investasi yang akan kembali. Mengapa? Karena produk kompos yang dihasilkan bisa dijual dan menghasilkan uang. Dalam praktiknya, pemerintah daerah tidak akan terlalu berat mengeluarkan biaya karena ada subsidi dari masyarakat yang setiap bulan membayar retribusi sampah. Atau bisa juga modal investasi pendirian dan pengoperasian pabrik kompos dikerja samakan dengan investor swasta dengan pembagian keuntungan yang sudah ditentukan. </span></p>
<p><span style="color:black;">Dengan asumsi jumlah penduduk Kota Bandung 2,5 juta jiwa dan tiap KK beranggota lima orang, sementara tiap KK harus membayar retribusi sampah rata-rata Rp 3.500 per bulan, jumla dana yang bisa diterima pemkot dari “subsidi” masyarakat mencapai 500.000 x Rp 3.500 = Rp 1,75 miliar. Anda saja kompos itu dijual dengan harga Rp 200,00 per kg franko gudang, pabrik kompos sudah mendapat keuntungan Rp 59,00 per kg. Agar produk kompos bisa diterima dan terjangkau petani, harga jual diusahakan agar di bawah harga pupuk buatan. </span></p>
<p><span style="color:black;">Di luar pengelolaan secara teknis adalah sistem penjualan kompos harus lancar sehingga pabrik dapat terus menampung bahan baku secara berkesinambungan. Kerja sama antara wali kota dan bupati di sekitar kota yang menjadi lokasi pabrik kompos sangatlah penting. Contoh dan anjuran mereka sangat dibutuhkan. Demikian pula kerja sama antara dinas terkait, seperti Dinas Kebersihan/Lingkungan Hidup dengan Dinas Pertanian/Perkebunan atau Kehutanan maupun dengan para petani dan pengusaha pertanian/perkebunan, juga dibutuhkan untuk kelancaran distribusi penyaluran kompos.*** </span></p>
<p><span style="color:black;"> </span><span style="color:black;">Ir. Memet Hakim, MM<br />
<em>Instruktur Manajemen Sampah</em></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/noverinus.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/noverinus.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/noverinus.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/noverinus.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=noverinus.wordpress.com&amp;blog=3157016&amp;post=5&amp;subd=noverinus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/perlu-paradigma-baru-mengolah-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66aeab1a0e5fcdb292c3cc0b23ffc226?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dhanang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/trash.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Global Warming</title>
		<link>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/global-warming/</link>
		<comments>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 07:01:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>noverinus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://noverinus.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Pernyataan di bawah berikut ini mungkin akan membuat kita tersentak sekaligus terbelalak. Ia berbunyi: “Pernyataan pemanasan global itu sungguh nyata cuma omong kosong. Pernyataan itu diulang-ulang oleh para aktivis guna meyakinkan sekaligus menakut-nakuti publik bahwa iklim akan berubah menjadi malapetaka, dan aktivitas manusialah penyebab utamanya.” Kalimat itu diucapkan senator AS dari Partai Republik, James Inhofe, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=noverinus.wordpress.com&amp;blog=3157016&amp;post=4&amp;subd=noverinus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/gw.jpg"><img class="alignleft alignnone size-medium wp-image-19" style="float:left;" src="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/gw.jpg?w=129&#038;h=116" alt="" width="129" height="116" /></a></p>
<p>Pernyataan di bawah berikut ini mungkin akan membuat kita tersentak sekaligus terbelalak. Ia berbunyi: “Pernyataan pemanasan global itu sungguh nyata cuma omong kosong. Pernyataan itu diulang-ulang oleh para aktivis guna meyakinkan sekaligus menakut-nakuti publik bahwa iklim akan berubah menjadi malapetaka, dan aktivitas manusialah penyebab utamanya.” Kalimat itu diucapkan senator AS dari Partai Republik, <strong>James Inhofe</strong>, yang juga merupakan Ketua <em>Environment and Public Works Committee</em> Senat AS, setahun lalu.</p>
<p>Pernyataan itu diperkuat lagi dengan pernyataan Direktur NASA <strong>Michael Griffin</strong> dalam wawancara dengan sebuah radio lokal di AS belum lama ini, yang menunjukkan keraguan sang direktur bahwa pemanasan global adalah tantangan terbesar yang harus diatasi manusia. Dalam wawancara tersebut, salah satu petikan pernyataan Griffin yang kemudian banyak dikutip adalah, “Iklim bumi saat ini adalah iklim yang terbaik yang pernah kita punyai.”<span id="more-4"></span></p>
<p>Benarkah pemanasan global sungguh-sungguh merupakan akibat dari ulah manusia yang terlalu rakus mengeksploitasi bumi dan ceroboh menjaga keseimbangan alam? Apakah pemanasan global dan perubahan iklim adalah hal terpenting yang harus diatasi manusia?</p>
<p>Inhofe memaparkan beragam fakta dan kutipan yang mendukung argumennya. Menurutnya, media memainkan peranan penting dalam menggelorakan isu yang tidak benar ini. Ia pun mengungkapkan penelusurannya terhadap laporan beberapa media terkemuka seperti Newsweek, Majalah Time, Harian New York Times, Chicago Tribune, dan juga Jurnal Science News. Didapatinya, media-media tersebut pada era tahun 1900-an justru melaporkan kekhawatiran akan datangnya abad es, bukan pemanasan atau melelehnya es. Hingga periode 1920-1930-an sampai menjelang akhir tahun 1970-an, media-media terkemuka di AS itu masih sangat gencar memberitakan dan melaporkan bahaya perubahan bumi menjadi bola es.</p>
<p>Ia pun melecehkan Protokol Kyoto, sebuah protokol yang ditandatangani oleh sebagian besar negara di kolong bumi ini guna mengurangi emisi gas-gas pembentuk rumah kaca di mana AS menolak menandatanganinya, sebagai kesepakatan dan solusi yang tidak ada artinya dalam rangka mengurangi emisi gas-gas berbahaya ke atmosfir bumi. Menurutnya, cara paling efektif untuk mengurangi gas-gas tersebut adalah penggunaan alat pembersih gas dan teknologi yang lebih efisien untuk menekan gas tersebut bertebaran ke angkasa.</p>
<p>Namun pernyataan Inhofe berbau politis itu tak menyurutkan gerakan global di seluruh dunia bahwa ancaman pemanasan bumi sungguh-sungguh nyata dan harus diperangi dari sekarang oleh semua pihak. Inhofe, politisi dari Partai Republik, sebagaimana halnya Presiden AS George W. Bush yang juga dari Partai Republik, jelas tidak mau kepentingan mereka terusik terusik gara-gara harus menekan emisi gas rumah kaca yang di AS sebagian besar dihasilkan dari pembangkit listrik berenergi fosil (BBM, batubara).</p>
<p>Tak hanya Inhofe dan Bush yang bersikap “bebal” terhadap perubahan iklim. Lebih dari 17 ribu ilmuwan &#8212; dua ribu lebih di antaranya adalah fisikawan, geofisikawan, ahli iklim, ahli meteorologi, dan pakar lingkungan- menandatangani petisi yang diedarkan oleh Oregon Institut of Science and Medicine di AS. Salah satu kalimat dalam petisi itu menyatakan, “Tidak ada bukti-bukti ilmiah bahwa pelepasan gas karbon dioksida (CO<sub>2</sub>), metana (CH<sub>4</sub>), dan gas-gas rumah kaca lainnya yang mengakibatkan pemanasan akut terhadap temperatur bumi dan kerusakan pada iklim bumi.”</p>
<p>Terlepas dari kenyataan dan pernyataan politik yang diungkapkan di atas, fakta-fakta berikut ini berbicara jauh lebih kuat dan nyata, memperlihatkan ke mana arah perubahan iklim di bumi ini akan menuju dan bermuara.</p>
<p><strong>Fakta-fakta</strong></p>
<p>Kita mulai dari yang jauh dengan kita, Laut Arktik. Lautan ini sebagian besar dikenali sebagai samudera es. Ilmuwan yang mengamati perubahan pada lautan es ini mencatat terjadinya peningkatan panas dua kali lebih cepat dibandingkan pemanasan di tingkat global. Sejak tahun 1980, samudera es yang terletak Arktik yang berada di wilayah Eropa telah mencair antara 20-30 persen.</p>
<p>Masih di Eropa, pegunungan Alpens yang tadinya sebagian besar diselubungi salju mengalami kemerosotan deposit salju yang parah. Delapan dari sembilan area gletser/<em>glacier</em> menunjukkan derajat kerusakan yang signifikan dan dalam kurun waktu satu abad sudah kehilangan sepertiga dari wilayah es.</p>
<p>Tidak hanya di Eropa, seluruh dataran tinggi di dunia yang selama ini dikenal memiliki puncak gunung es juga lumer. Salju di puncak gunung tertinggi di Afrika, Kilimanjaro, setiap bulannya meleleh tak kurang dari 300 meter kubik. Gunung yang terletak di Tanzania ini menderita kebotakan salju parah bilamana membandingkan foto udara yang diambil pada tahun 1974, 1990, dan 2001. Dalam periode satu abad pengamatan, salju di puncak gunung itu meleleh hingga mencapai 82%. Bila salju tak lagi betah hinggap di puncak gunung itu, nama gunung itu boleh jadi harus diubah, karena Kilimanjaro dalam bahasa setempat berarti gunung yang putih atau gunung yang bercahaya.</p>
<p>Mari beralih ke kawasan yang melahirkan banyak seniman bola, Amerika Selatan. Salju di negeri-negeri seperti berdataran tinggi seperti Argentina, Peru, Chili juga menurun drastis. Pegunungan Andes, salah satu surga salju di dunia, mengalami pelelehan salju ke arah puncak gunung yang sangat signifikan. Antara tahun 1963 hingga 1978, salju mencair rata-rata 4 meter per tahun, dan sejak tahun 1995 hingga sekarang, pelelehan salju mencapai kecepatan 30,1 meter per tahun di seluruh kawasan yang mengandung <em>glacier</em>. Sementara di Venezuela, negeri penghasil Miss World terbanyak, dari 6 <em>glacier</em> yang dimiliki negeri tersebut pada tahun 1972, kini hanya tersisa dua lagi, dan akan hilang paling lambat 10 tahun sejak sekarang.</p>
<p>Konsekuensi dari melelehnya salju adalah meningkatnya permukaan air laut, pertama-tama di kawasan tersebut. Di negeri bola Brasil, garis pantai yang hilang menjadi lautan rata-rata berkisar 1,8 meter per tahun pada kurun waktu antara 1915 hingga 1950 dan meningkat menjadi 2,4 meter per tahun pada kurun waktu sepuluh tahun antara 1985-1995.</p>
<p>Apa yang terjadi di Asia, juga di Indonesia, akibat pemanasan global? Sama dengan yang terjadi di benua lain, salju-salju di dataran tinggi Asia mengalami pelelehan yang drastis sekaligus dramatis. Himalaya, gunung tertinggi di dunia yang menjadi kantong air beku di “atap langit” terus kehilangan saljunya secara konsisten. <em>Glacier-glacier</em> di Pegunungan Himalaya yang tersebar di negara-negara seperti India, Tibet, Bhutan, China, terdegradasi dengan amat cepat. Tujuh sungai besar di Asia yang bermata air dari Himalaya yakni Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning terancam eksistensinya yang berakibat pada ratusan juta umat manusia di kawasan sepanjang aliran sungai-sungai itu.</p>
<p>Tak hanya di kawasan Asia Selatan, salju di Asia Tengah yang juga terus lenyap satu per satu. Itu terjadi pula di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daerah pegunungan tinggi di Indonesia yang memiliki salju. Bila foto udara pada tahun 1972 memperlihatkan puncak gunung yang hampir seluruhnya diselimuti salju, sekarang puncak gunung itu hanyalah berisi bebatuan dan pepohonan belaka. Artinya, tidak ada lagi salju di sana.</p>
<p>Pelelehan es yang diungkap di atas baru merupakan sebagian dari yang sebenarnya terjadi. Berdasarkan laporan terakhir Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terakhir yang dirilis tahun 2007 ini, 30 salju di pegunungan di seluruh dunia kehilangan ketebalan hingga lebih dari setengah meter hingga tahun 2005 saja. Dua tahun yang terakhir belum masuk dalam laporan tersebut.</p>
<p><strong>Konsekuensi dan Risiko</strong></p>
<p>Karena energi bersifat kekal, salju-salju tadi dengan sendirinya tidak hilang dan hanya berubah bentuk. Ibarat es yang ada dalam sebuah gelas, ketika ia terkena panas dan mencair, volume air itu tidak berkurang atau bertambah, melainkan hanya berubah. Maka, konsekuensi pertama dari meningkatnya suhu bumi yang melelehkan salju dan deposit-deposit air tadi adalah kian bertambahnya air di permukaan bumi. Peningkatan tersebut dapat dideteksi di seluruh penjuru bumi dan dibuktikan melalui sejumlah foto udara yang membandingkan suatu kawasan pada puluhan tahun silam dengan kondisi kontemporer.</p>
<p>Namun, konsekuensi meningkatnya suhu bumi tidaklah sesederhana itu. Perubahan-perubahan ekologis yang terjadi pada lingkungan di mana manusia dan makhluk hidup lainnya hidup membawa dampak yang mengerikan bagi umat manusia. Hukum fisika menyatakan, angin bergerak dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas. Nah, perbedaan temperatur suatu kawasan dengan kawasan lain yang sangat ekstrem pada waktu bersamaan telah memicu munculnya angin topan, badai, dan tornado menjadi lebih sering dibandingkan beberapa tahun silam. Negara-negara di kawasan Amerika Utara, Tengah, Selatan dan Karibia, Eropa, juga Asia Selatan dan Timur sudah merasakan dampak yang ditimbulkan dari topan badai ini. Topan yang memiliki nama-nama nan indah menerpa warga di seluruh bumi secara memilukan dan sekaligus mematikan.</p>
<p>Arus pergerakan air tidak hanya membawa musibah banjir bandang, tetapi juga disertai tanah longsor akibat penggundulan hutan yang berlangsung setiap menit. Dalam waktu bersamaan, belahan dunia yang satu terancam kekeringan dan kebakaran, tempat lainnya dilanda topan badai, banjir dan tanah longsor yang menyengsarakan ratusan juta umat manusia.</p>
<p><strong>Konsekuensi di Tingkat Lokal</strong><br />
Kekeringan di daerah Gunung Kidul misalnya, mungkin saja sudah menjadi fakta jamak yang berlangsung setiap tahun dan sudah sejak puluhan tahun hal itu terjadi. Akan tetapi, kesulitan air yang dialami oleh warga di lereng Gunung Merapi lima tahun terakhir ini misalnya, tentu sebuah fakta baru yang menunjukkan betapa air makin sulit didapat.</p>
<p>Kesulitan para petani sayuran di lereng Gunung Merbabu misalnya, juga sesuatu yang masih terdengar asing. Grojogan Sewu memang masih menumpahkan airnya. Tetapi dibandingkan lima belas tahun silam misalnya, grojogan itu sekarang telah berubah menjadi tak lebih dari pancuran. Beberapa puluh tahun yang akan datang, boleh jadi ia tinggal menjadi tetesan saja.</p>
<p>Itu baru dari sisi kelangkaan air. Dari sisi perubahan iklim, semua kota dan wilayah di Indonesia menjadi korbannya. Di Jawa bagian tengah misalnya, Kaliurang di Jogjakarta, Tawangmangu di Karanganyar, atau Bandungan di Semarang, sekarang bukan lagi didatangi wisatawan karena udaranya yang sejuk dan dingin, tetapi karena kelatahan dan cap yang terlanjut melekat sebagai daerah wisata. Itu saja. Dahulu, di daerah-daerah tersebut kabut dingin senantiasa turun setiap pagi sepanjang tahun. Sekarang, ia hanya bisa dijumpai beberapa kali sepanjang tahun, itupun sangat tergantung dari musim.</p>
<p>Di Puncak Jaya, Papua, salju tidak lagi hinggap di puncaknya sejak beberapa tahun silam. Ini menandai era berakhirnya eksistensi satu-satunya kawasan bersalju di Indonesia. Dan ini sekaligus membuktikan, bahwa bumi yang makin panas bukanlah fakta gombal melainkan kenyataan aktual.</p>
<p>Ironisnya, dalam situasi udara yang makin panas, orang lalu mencari cara untuk mendinginkannya, tetapi hanya untuk diri mereka sendiri. Pendingin udara adalah pilihan pragmatis untuk ini, tetapi alat inipun hanya bisa dijangkau oleh lapisan masyarakat golongan menengah ke atas. Masyarakat miskin jelas tak bisa mengelak dari kegerahan.</p>
<p>Ironisnya, penggunaan pendingin udara yang makin masif dan intensif pada sebagian besar rumah tangga di perkotaan secara akumulatif justru mendorong terciptanya bumi yang makin panas akibat gas-gas yang dihasilkan oleh pendingin udara tersebut tidak ramah lingkungan. Sudah begitu, penggunaan pendingin udara yang intensif itu juga memicu meningkatnya kebutuhan listrik yang terus membesar –yang lagi-lagi ironisnya— sementara listrik tersebut diproduksi dengan menggunakan bahan bakar fosil yang tak ramah terhadap lingkungan dan memberi kontribusi terbesar pada pemanasan secara global.</p>
<p>Lingkaran setan ini jelas menggiring masyarakat yang paling miskin dan tak memiliki akses terhadap sumber daya ekonomi yang memadai menjadi korban. Jumlah masyarakat yang kian tersisih dari lingkaran ini niscaya akan terus membesar karena perseteruan dan kata sepakat tentang upaya kongkret memerangi perubahan iklim ini mengalami kebuntuan yang akut.</p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/noverinus.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/noverinus.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/noverinus.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/noverinus.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=noverinus.wordpress.com&amp;blog=3157016&amp;post=4&amp;subd=noverinus&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://noverinus.wordpress.com/2008/03/27/global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66aeab1a0e5fcdb292c3cc0b23ffc226?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">dhanang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://noverinus.files.wordpress.com/2008/06/gw.jpg?w=129" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
